Rabu, 18 Juni 2025

Peran Media Sosial Dalam Penyebaran Hoaks Pada Masyakarat

 Stepfany Lasma Rito Tampubolon

Prodi Ilmu Keolahragaan, Fakultas Ilmu Keolahragaan

Universitas Negeri Medan

 

ABSTRAK

Penyebaran hoax di media sosial telah menjadi masalah serius di masyarakat mengingat masih banyak masyarakat yang dengan mudah memercayai hoaks, bahkan sampai turut menyebarkannya. Faktor utama penyebaran hoax adalah kurangnya literasi digital, motivasi ekonomi, dan polarisasi politik. Literasi di era digital ini menjadi kunci untuk mengatasi berbagai tantangan, literasi digital penting dalam menghadapi hoaks termasuk kemampuan mengidentifikasi hoaks, mengevaluasi keaslian sumber informasi, memahami konteks informasi, menggunakan alat bantu, mempertanyakan informasi, dan menjaga privasi dan keamanan online. Literasi digital membantu individu menjadi lebih cerdas, kritis, dan bertanggung jawab dalam mengonsumsi dan menyebarkan informasi di dunia digital. Hoaks dapat menimbulkan dampak yang sangat merugikan, baik bagi individu maupun masyarakat secara keseluruhan. Dampak hoax terhadap masyarakat meliputi kebingungan, konflik sosial, dan penurunan kepercayaan publik. Oleh karena itu, penting bagi masyarakat untuk selalu memeriksa kebenaran informasi sebelum membagikannya atau mengambil tindakan berdasarkan informasi tersebut, dengan literasi digital masyarakat dapat memahami dan mengelola informasi yang tersebar di media sosial.

Kata kunci: Media sosial, hoaks,literasi digital

PENDAHULUAN

 Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki berbagi macam etnis, budaya, dan agama. Bhinneka Tunggal Ika yang menjadi landasan atau semboyan negara tidak semata-mata hanya menjadi sebutan, tetapi juga pedoman dan pegangan bagi masyarakat Indonesia. Kebhinekaan Indonesia adalah salah satu bentuk kemajuan masyarakat terbesar di dunia. Indonesia memiliki ribuan pulau, ratusan suku, kebudayaan dan berbagai macam agama. Meskipun terdapat banyak keberagaman dan perbedaan, masyarakat Indonesia memiliki sikap saling memahami dan menghormati perbedaaan tersebut.

Indonesia menjadi salah satu negara yang mengedepankan pendidikan sebagai upaya untuk membangun masyarakat yang berkualitas. Pendidikan merupakan salah satu aspek penting bagi manusia yang dapat dijadikan sebagai suatu pondasi dalam kehidupan. Pendidikan adalah suatu proses pembelajaran yang dilakukan untuk mengembangkan potensi seseorang melalui pelatihan, pengajaran, dan penelitian. Melalui pendidikan, seseorang diharapkan dapat memiliki pemahaman dan pemikiran yang kritis terhadap suatu hal.  Fungsi dan tujuan pendidikan nasional telah diatur dalam Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 Pasal 3, tentang Sistem Pendidikan Nasional yang menyatakan bahwa fungsi pendidikan nasional adalah mengembangkan kemampuan dan membentuk karakter serta peradaban bangsa sebagai upaya untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, sedangkan tujuan pendidikan nasional adalah mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Oleh karena itu, pendidikan sangat berperan penting bagi kemajuan negara Indonesia, dari zaman dulu hingga saat ini.

Seiring perkembangan zaman, teknologi informasi dan komunikasi mengalami kemajuan yang sangat pesat. Kemajuan teknologi informasi dan komunikasi memudahkan semua orang di belahan dunia untuk saling berkomunikasi dan berinteraksi satu sama lain, tanpa mengenal ruang dan waktu.

 Pada saat ini semua masyarakat yang ada di perkotaan maupun pedesaan telah mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Banyak masyarakat yang kehidupannya bergantung pada internet. Dulu, internet hanya bisa digunakan untuk mengirim dan menerima informasi melalui e-maildan juga untuk mencari informasi melalui google. Namun, sekarang internet sudah bisa digunakan untuk mengakses media sosial. Sehingga dengan adanya perkembangan internet dapat memberikan akibat baik maupun akibat buruk.

Media sosial adalah media berbasis teknologi internet yang didesain untuk memudahkan interaksi sosial yang bersifat interaktif atau dua arah. Menurut Saleh dan Fitriani (dalam Mujianto dan Nurhadi, 2022). Kemajuan teknologi informasi dan komunikasi tidak hanya memberi dampak positif bagi masyarakat, melainkan juga memberi dampak negatif. Salah satu dampak negatif dari kemajuan teknologi dan komunikasi adalah hoaks atau berita bohong di media sosial. Menurut Hendra dkk (dalam Oktaviani dkk, 2021) memaparkan bahwa hoaks merupakan berita bohong yang sengaja diciptakan dengan maksud untuk mengolok-olok atau menghina individu maupun kelompok.

Penyebaran hoaks di media sosial telah menjadi masalah serius yang berdampak luas bagi masyarakat. Hoaks dapat menimbulkan kebingungan, ketidakpercayaan, dan bahkan dapat membahayakan keamanan masyarakat. Berkembangnya informasi hoaks di pengaruhi oleh faktor yang bersinggungan dengan politik, suku, budaya, agama, serta dari perbedaan pendapat juga dapat menimbulkan informasi hoaks. Kondisi ini terjadi karena fakta dan bukti yang dianggap kurang penting di bandingkan emosi dan logika yang dianggap suatu kebenaran (Kosasih, 2019). Informasi yang disebarkan melalui dunia maya mudah diterima oleh orang yang membacanya dan seringkali menimbulkan masalah di dunia nyata karena informasi tersebut tidak diragukan lagi akurat. Akhirnya menjadi fenomena penyebaran informasi palsu (Virga dan Andriadi 2019). Oleh karena itu, penting bagi masyarakat untuk selalu memeriksa kebenaran informasi sebelum membagikannya atau mengambil tindakan berdasarkan informasi tersebut, dengan literasi digital masyarakat dapat memahami dan mengelola informasi yang tersebar di media sosial.

Peningkatan jumlah pengguna internet di Indonesia dalam kurun waktu lima tahun terakhir telah memberikan implikasi yang signifikan dalam berbagai aspek kehidupan. Dalam konteks ekonomi, akses yang luas terhadap internet telah membuka peluang baru dalam perdagangan elektronik, pemasaran online, dan inovasi bisnis digital. Penelitian yang dilakukan oleh (Rifai et al., 2022) menemukan bahwa perkembangan teknologi internet telah mengubah lanskap bisnis di Indonesia dengan meningkatkan aksesibilitas dan efisiensi perdagangan elektronik, serta memungkinkan para pelaku bisnis untuk mencapai pangsa pasar yang lebih luas melalui pemasaran online. Belakangan ini, kasus-kasus penyebaran hoaks semakin marak terjadi di Indonesia. Hoaks dapat dengan mudah disebarluaskan oleh penciptanya, media yang paling sering digunakan adalah media sosial seperti Whatsapp, Twitter, dan Instagram. Walau telah banyak terjadi kasus hoaks, namun masyarakat sepertinya sulit berkaca dari kasus-kasus terdahulu sehingga kasus tersebut terjadi berulang-ulang dan semakin sulit dihindari.

Kasus berita bohong dan palsu (Hoaks) semakin meningkat di Indonesia tiap tahunnya. Kominfo selama 24 jam 7 hari melakukan monitoring cyber crime di sosial media terkait informasi hoaks, dan hampir setiap hari menemukan disinformasi di media sosial. Contohnya pada saat pandemi Covid19, Kominfo (Kementerian Komunikasi dan Informasi 2020), mencatat dari bulan Januari hingga bulan Agustus Tahun 2020 ada 1.028 hoaks yang ditemukan tersebar di sosial media terkait Covid19. Survei Katadata Insight Center (KIC) bekerjasama dengan Kementerian Komunikasi dan Informatika serta SiBerkreasi (Cahyadi2020), menunjukkan bahwa 30%-60% orang Indonesia terpapar hoaks saat berselancar di dunia maya. Survei di atas (Cahyadi 2020), juga menunjukkan masih rendahnya literasi media digital masyarakat. Survei katadata Insight Center juga menunjukkan bahwa literasi digital di Indonesia belum mencapai level “baik”, dari skor 1-5 tingkat indeks literasi digital nasional masih pada skor 3,47 di mana literasi digital di level menengah. Survey tersebut juga menunjukkan bahwa kemampuan mengolah informasi, literasi data dan berpikir kritis masih memiliki skor rendah.

PEMBAHASAN

Menanggulangi penyebaran konten negatif di media sosial diperlukan kemampuan literasi media digital. Literasi media meliputi kemampuan untuk mengakses, menganalisis, mengevaluasi dan mengkomunikasikan informasi dalam berbagai bentuk media.

Salah satu literasi yang perlu diterapkan di era digital ini adalah literasi digital. Literasi digital adalah kemampuan untuk menggunakan teknologi digital dengan bijak dan efektif dalam mengakses, mengevaluasi, dan menghasilkan informasi (Terttiaavini, 2022). Literasi digital adalah kemampuan untuk mengakses, menganalisis, mengevaluasi, dan menggunakan informasi secara efektif, efisien, dan etis melalui berbagai platform digital.

            The United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) mendefinisikan literasi sebagai kemampuan individu untuk mengidentifikasi, memahami, menafsirkan, menciptakan, berkomunikasi, menghitung, dan menggunakan materi cetak dan tulisan dengan tujuan mencapai berbagai target dalam pengembangan pengetahuan dan potensi personal. Selain itu, literasi juga membantu individu berpartisipasi secara aktif dalam komunitas dan masyarakat (Harjono, 2018).

            Menurut Sentoso dkk, (2019), literasi merujuk pada kemampuan seseorang dalam berbahasa, termasuk kemampuan membaca, berbicara, menyimak, dan menulis, yang digunakan dengan cara yang berbeda sesuai dengan tujuannya. Hal memungkinkan seseorang untuk berpartisipasi secara aktif dalam masyarakat, mengakses peluang pendidikan dan pekerjaan, serta membuat keputusan yang cerdas dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, pengembangan literasi menjadi fokus utama dalam pendidikan dan pembelajaran bagi masyarakat Indonesia. Dengan memiliki literasi yang baik, seseorang dapat memperoleh pengetahuan yang lebih luas, meningkatkan keterampilan komunikasi, dan membuat keputusan yang lebih baik. Literasi juga membantu seseorang dalam mengembangkan pemikiran kritis, kreativitas, dan empati.

            Sukana dan Sugiarto (2022) menyebutkan bahwa proses penguatan keterampilan teknis perlu didukung oleh pelatihan berkala, pembaruan terhadap standar keselamatan, serta keterlibatan dalam simulasi lapangan. Peningkatan kualitas teknis pemandu dapat dibentuk melalui pengalaman langsung dan pengamatan situasi yang bervariasi. Penguasaan aspek teknis akan membekali pemandu dalam menghadapi tantangan kondisi alam yang dinamis dan karakter peserta yang beragam. Berikut adalah beberapa alasan mengapa literasi digital penting dalam menghadapi hoaks atau informasi palsu di media sosial :

1. Mengidentifikasi informasi palsu: Dalam menghadapi penyebaran informasi palsu, literasi digital memainkan peran penting dalam mengidentifikasi dan menganalisis informasi yang benar atau palsu (hoax) (Ummah: 2020). Literasi digital membantu pengguna media sosial untuk mengenali tanda-tanda informasi palsu, seperti judul yang menarik perhatian, sumber yang tidak terpercaya, atau ketidakkonsistenan dalam konten.

2. Mengevaluasi keaslian sumber informasi: Literasi digital melibatkan kemampuan untuk mengevaluasi keaslian sumber informasi. Verifikasi merupakan salah satu bentuk cara dalam mengevaluasi informasi yang didapat (Sahilanada: 2021)

 3. Memahami konteks informasi: Literasi digital membantu pengguna media sosial untuk memahami konteks di balik informasi yang mereka temui. Literasi digital ini meliputi kemampuan untuk berpikir kritis dalam mengolah informasi yang diperoleh (Mutaqin: 2023). Hal ini melibatkan kemampuan untuk melihat lebih dari satu sisi cerita, memahami bias yang mungkin ada, dan mencari informasi tambahan untuk mendapatkan gambaran yang lebih lengkap.

4. Menggunakan alat bantu: Literasi digital melibatkan penggunaan alat bantu, seperti mesin pencari, untuk memverifikasi informasi. Pengguna media sosial harus mampu mencari sumber yang dapat dipercaya dan membandingkan informasi dari berbagai sumber sebelum mengambil kesimpulan.

5. Mempertanyakan informasi: Literasi digital mendorong pengguna media sosial untuk selalu mempertanyakan informasi yang mereka temui. Dengan mengajukan pertanyaan yang kritis, pengguna dapat mengidentifikasi kelemahan dalam argumen atau ketidaksesuaian antara informasi yang diberikan dan fakta yang ada. 6. Menghormati privasi dan keamanan: iterasi digital juga melibatkan pemahaman tentang privasi dan keamanan online. Pengguna media sosial harus mampu melindungi diri mereka sendiri dan informasi pribadi mereka dari penipuan dan serangan online.

KESIMPULAN

            Pendidikan merupakan salah satu aspek penting dalam kehidupan manusia. Melalui pendidikan, kita dapat mengembangkan segala potensi dalam diri. Tujuan Pendidikan Kewarganegaraan adalah dapat bersikap kritis, rasional, kreatif, berpartisipasi aktif dalam kegiatan bermasyarakat, bertindak cerdas, bertanggung jawab, membentuk karakter positif dalam diri seta memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi untuk berinteraksi dengan bangsa lain. Kemajuan teknologi informasi dan komunikasi tidak hanya memberi dampak positif bagi masyarakat, melainkan juga memberi dampak negatif. Salah satu dampak negatif dari kemajuan teknologi dan komunikasi adalah penyebaran hoaks atau berita bohong. Penyebaran hoaks di media sosial semakin masif dan sulit dikontrol. Kemudahan berbagi informasi di media sosial memudahkan penyebaran konten palsu yang cepat menyebar luas.                 Dalam menghadapi tantangan informasi palsu dan hoaks di era digital, literasi digital memegang peranan penting untuk membantu masyarakat menjadi pengguna yang cerdas, kritis, dan bertanggung jawab. Kemampuan literasi digital, seperti mengidentifikasi informasi palsu, mengevaluasi keaslian sumber informasi, memahami konteks, menggunakan alat bantu, mempertanyakan informasi, dan menghormati privasi, menjadi kunci dalam membangun masyarakat yang terinformasi dan terhubung secara optimal di dunia digital. Dengan demikian, permasalahan hoaks dapat sedikit demi sedikit dapat teratasi.

Contoh artikel gambar