Stepfany Lasma Rito Tampubolon
Prodi Ilmu
Keolahragaan, Fakultas Ilmu Keolahragaan
Universitas Negeri Medan
ABSTRAK
Penyebaran hoax di media sosial telah menjadi masalah serius di masyarakat mengingat
masih banyak masyarakat yang dengan mudah memercayai hoaks, bahkan sampai turut
menyebarkannya. Faktor utama penyebaran hoax adalah kurangnya literasi digital,
motivasi ekonomi, dan polarisasi politik. Literasi di era digital ini menjadi kunci untuk mengatasi berbagai
tantangan, literasi digital penting dalam menghadapi hoaks termasuk kemampuan
mengidentifikasi hoaks, mengevaluasi keaslian sumber informasi, memahami
konteks informasi, menggunakan alat bantu, mempertanyakan informasi, dan
menjaga privasi dan keamanan online. Literasi digital membantu individu menjadi
lebih cerdas, kritis, dan bertanggung jawab dalam mengonsumsi dan menyebarkan
informasi di dunia digital. Hoaks dapat menimbulkan dampak yang sangat
merugikan, baik bagi individu maupun masyarakat secara keseluruhan. Dampak hoax
terhadap masyarakat meliputi kebingungan, konflik sosial, dan penurunan
kepercayaan publik. Oleh karena itu, penting bagi masyarakat untuk selalu
memeriksa kebenaran informasi sebelum membagikannya atau mengambil tindakan
berdasarkan informasi tersebut, dengan literasi digital masyarakat dapat
memahami dan mengelola informasi yang tersebar di media sosial.
Kata kunci: Media sosial, hoaks,literasi digital
PENDAHULUAN
Indonesia merupakan salah satu negara yang
memiliki berbagi macam etnis, budaya, dan agama. Bhinneka Tunggal Ika yang
menjadi landasan atau semboyan negara tidak semata-mata hanya menjadi sebutan,
tetapi juga pedoman dan pegangan bagi masyarakat Indonesia. Kebhinekaan
Indonesia adalah salah satu bentuk kemajuan masyarakat terbesar di dunia.
Indonesia memiliki ribuan pulau, ratusan suku, kebudayaan dan berbagai macam
agama. Meskipun terdapat banyak keberagaman dan perbedaan, masyarakat Indonesia
memiliki sikap saling memahami dan menghormati perbedaaan tersebut.
Indonesia menjadi salah satu
negara yang mengedepankan pendidikan sebagai upaya untuk membangun masyarakat
yang berkualitas. Pendidikan merupakan salah satu
aspek penting bagi manusia yang dapat dijadikan sebagai suatu pondasi dalam
kehidupan. Pendidikan adalah suatu proses pembelajaran yang dilakukan untuk
mengembangkan potensi seseorang melalui pelatihan, pengajaran, dan penelitian.
Melalui pendidikan, seseorang diharapkan dapat memiliki pemahaman dan pemikiran
yang kritis terhadap suatu hal. Fungsi dan tujuan pendidikan nasional telah diatur dalam Undang-Undang
Nomor 20 tahun 2003 Pasal 3, tentang Sistem Pendidikan Nasional yang menyatakan
bahwa fungsi pendidikan nasional adalah mengembangkan kemampuan dan membentuk
karakter serta peradaban bangsa sebagai upaya untuk mencerdaskan kehidupan
bangsa, sedangkan tujuan pendidikan nasional adalah mengembangkan potensi
peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang
Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, menjadi
warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Oleh karena itu, pendidikan
sangat berperan penting bagi kemajuan negara Indonesia, dari zaman dulu hingga
saat ini.
Seiring perkembangan zaman,
teknologi informasi dan komunikasi mengalami kemajuan yang sangat pesat.
Kemajuan teknologi informasi dan komunikasi memudahkan semua orang di belahan
dunia untuk saling berkomunikasi dan berinteraksi satu sama lain, tanpa
mengenal ruang dan waktu.
Pada saat ini semua masyarakat yang ada di
perkotaan maupun pedesaan telah mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi. Banyak masyarakat yang kehidupannya bergantung pada internet. Dulu,
internet hanya bisa digunakan untuk mengirim dan menerima informasi melalui e-maildan
juga untuk mencari informasi melalui google. Namun, sekarang internet
sudah bisa digunakan untuk mengakses media sosial. Sehingga dengan adanya
perkembangan internet dapat memberikan akibat baik maupun akibat buruk.
Media sosial adalah media
berbasis teknologi internet yang didesain untuk memudahkan interaksi sosial
yang bersifat interaktif atau dua arah. Menurut Saleh dan Fitriani (dalam
Mujianto dan Nurhadi, 2022). Kemajuan teknologi informasi dan komunikasi tidak
hanya memberi dampak positif bagi masyarakat, melainkan juga memberi dampak
negatif. Salah satu dampak negatif dari kemajuan teknologi dan komunikasi
adalah hoaks atau berita bohong di media sosial. Menurut Hendra dkk (dalam
Oktaviani dkk, 2021) memaparkan bahwa hoaks merupakan berita bohong yang
sengaja diciptakan dengan maksud untuk mengolok-olok atau menghina individu
maupun kelompok.
Penyebaran hoaks di media
sosial telah menjadi masalah serius yang berdampak luas bagi masyarakat. Hoaks
dapat menimbulkan kebingungan, ketidakpercayaan, dan bahkan dapat membahayakan
keamanan masyarakat. Berkembangnya informasi hoaks di pengaruhi oleh
faktor yang bersinggungan dengan politik, suku, budaya, agama, serta dari
perbedaan pendapat juga dapat menimbulkan informasi hoaks. Kondisi ini terjadi
karena fakta dan bukti yang dianggap kurang penting di bandingkan emosi dan
logika yang dianggap suatu kebenaran (Kosasih, 2019). Informasi yang disebarkan
melalui dunia maya mudah diterima oleh orang yang membacanya dan seringkali
menimbulkan masalah di dunia nyata karena informasi tersebut tidak diragukan
lagi akurat. Akhirnya menjadi fenomena penyebaran informasi palsu (Virga dan
Andriadi 2019). Oleh karena itu, penting bagi masyarakat untuk selalu memeriksa
kebenaran informasi sebelum membagikannya atau mengambil tindakan berdasarkan
informasi tersebut, dengan literasi digital masyarakat dapat memahami dan
mengelola informasi yang tersebar di media sosial.
Peningkatan jumlah pengguna
internet di Indonesia dalam kurun waktu lima tahun terakhir telah memberikan
implikasi yang signifikan dalam berbagai aspek kehidupan. Dalam konteks
ekonomi, akses yang luas terhadap internet telah membuka peluang baru dalam perdagangan
elektronik, pemasaran online, dan inovasi bisnis digital. Penelitian yang
dilakukan oleh (Rifai et al., 2022) menemukan bahwa perkembangan teknologi
internet telah mengubah lanskap bisnis di Indonesia dengan meningkatkan
aksesibilitas dan efisiensi perdagangan elektronik, serta memungkinkan para
pelaku bisnis untuk mencapai pangsa pasar yang lebih luas melalui pemasaran
online. Belakangan ini, kasus-kasus penyebaran hoaks semakin marak terjadi di
Indonesia. Hoaks dapat dengan mudah disebarluaskan oleh penciptanya, media yang
paling sering digunakan adalah media sosial seperti Whatsapp, Twitter,
dan Instagram. Walau telah banyak terjadi kasus hoaks, namun
masyarakat sepertinya sulit berkaca dari kasus-kasus terdahulu sehingga kasus tersebut
terjadi berulang-ulang dan semakin sulit dihindari.
Kasus berita bohong dan palsu
(Hoaks) semakin meningkat di Indonesia tiap tahunnya. Kominfo selama 24 jam 7
hari melakukan monitoring cyber crime di sosial media terkait informasi hoaks,
dan hampir setiap hari menemukan disinformasi di media sosial. Contohnya pada
saat pandemi Covid19, Kominfo (Kementerian Komunikasi dan Informasi 2020),
mencatat dari bulan Januari hingga bulan Agustus Tahun 2020 ada 1.028 hoaks
yang ditemukan tersebar di sosial media terkait Covid19. Survei Katadata
Insight Center (KIC) bekerjasama dengan Kementerian Komunikasi dan Informatika
serta SiBerkreasi (Cahyadi2020), menunjukkan bahwa 30%-60% orang Indonesia
terpapar hoaks saat berselancar di dunia maya. Survei di atas (Cahyadi 2020),
juga menunjukkan masih rendahnya literasi media digital masyarakat. Survei
katadata Insight Center juga menunjukkan bahwa literasi digital di Indonesia
belum mencapai level “baik”, dari skor 1-5 tingkat indeks literasi digital
nasional masih pada skor 3,47 di mana literasi digital di level menengah.
Survey tersebut juga menunjukkan bahwa kemampuan mengolah informasi, literasi
data dan berpikir kritis masih memiliki skor rendah.
PEMBAHASAN
Menanggulangi penyebaran
konten negatif di media sosial diperlukan kemampuan literasi media digital.
Literasi media meliputi kemampuan untuk mengakses, menganalisis, mengevaluasi
dan mengkomunikasikan informasi dalam berbagai bentuk media.
Salah satu literasi yang perlu
diterapkan di era digital ini adalah literasi digital. Literasi digital adalah kemampuan
untuk menggunakan teknologi digital dengan bijak dan efektif dalam mengakses,
mengevaluasi, dan menghasilkan informasi (Terttiaavini, 2022). Literasi digital
adalah kemampuan untuk mengakses, menganalisis, mengevaluasi, dan menggunakan
informasi secara efektif, efisien, dan etis melalui berbagai platform digital.
The United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization
(UNESCO) mendefinisikan literasi sebagai kemampuan individu untuk
mengidentifikasi, memahami, menafsirkan, menciptakan, berkomunikasi,
menghitung, dan menggunakan materi cetak dan tulisan dengan tujuan mencapai
berbagai target dalam pengembangan pengetahuan dan potensi personal. Selain
itu, literasi juga membantu individu berpartisipasi secara aktif dalam
komunitas dan masyarakat (Harjono, 2018).
Menurut Sentoso dkk, (2019),
literasi merujuk pada kemampuan seseorang dalam berbahasa, termasuk kemampuan
membaca, berbicara, menyimak, dan menulis, yang digunakan dengan cara yang
berbeda sesuai dengan tujuannya. Hal memungkinkan seseorang untuk
berpartisipasi secara aktif dalam masyarakat, mengakses peluang pendidikan dan
pekerjaan, serta membuat keputusan yang cerdas dalam kehidupan sehari-hari.
Oleh karena itu, pengembangan literasi menjadi fokus utama dalam pendidikan dan
pembelajaran bagi masyarakat Indonesia. Dengan memiliki literasi yang baik,
seseorang dapat memperoleh pengetahuan yang lebih luas, meningkatkan
keterampilan komunikasi, dan membuat keputusan yang lebih baik. Literasi juga
membantu seseorang dalam mengembangkan pemikiran kritis, kreativitas, dan
empati.
Sukana dan Sugiarto (2022)
menyebutkan bahwa proses penguatan keterampilan teknis perlu didukung oleh
pelatihan berkala, pembaruan terhadap standar keselamatan, serta keterlibatan
dalam simulasi lapangan. Peningkatan kualitas teknis pemandu dapat dibentuk
melalui pengalaman langsung dan pengamatan situasi yang bervariasi. Penguasaan
aspek teknis akan membekali pemandu dalam menghadapi tantangan kondisi alam
yang dinamis dan karakter peserta yang beragam. Berikut
adalah beberapa alasan mengapa literasi digital penting dalam menghadapi hoaks
atau informasi palsu di media sosial :
1. Mengidentifikasi informasi palsu: Dalam menghadapi penyebaran informasi
palsu, literasi digital memainkan peran penting dalam mengidentifikasi dan
menganalisis informasi yang benar atau palsu (hoax) (Ummah: 2020). Literasi
digital membantu pengguna media sosial untuk mengenali tanda-tanda informasi
palsu, seperti judul yang menarik perhatian, sumber yang tidak terpercaya, atau
ketidakkonsistenan dalam konten.
2. Mengevaluasi keaslian sumber informasi: Literasi digital melibatkan
kemampuan untuk mengevaluasi keaslian sumber informasi. Verifikasi merupakan
salah satu bentuk cara dalam mengevaluasi informasi yang didapat (Sahilanada:
2021)
3. Memahami konteks informasi:
Literasi digital membantu pengguna media sosial untuk memahami konteks di balik
informasi yang mereka temui. Literasi digital ini meliputi kemampuan untuk
berpikir kritis dalam mengolah informasi yang diperoleh (Mutaqin: 2023). Hal
ini melibatkan kemampuan untuk melihat lebih dari satu sisi cerita, memahami
bias yang mungkin ada, dan mencari informasi tambahan untuk mendapatkan
gambaran yang lebih lengkap.
4. Menggunakan alat bantu: Literasi digital melibatkan penggunaan alat
bantu, seperti mesin pencari, untuk memverifikasi informasi. Pengguna media
sosial harus mampu mencari sumber yang dapat dipercaya dan membandingkan
informasi dari berbagai sumber sebelum mengambil kesimpulan.
5. Mempertanyakan informasi: Literasi digital mendorong pengguna media
sosial untuk selalu mempertanyakan informasi yang mereka temui. Dengan
mengajukan pertanyaan yang kritis, pengguna dapat mengidentifikasi kelemahan
dalam argumen atau ketidaksesuaian antara informasi yang diberikan dan fakta
yang ada. 6. Menghormati privasi dan keamanan: iterasi digital juga melibatkan
pemahaman tentang privasi dan keamanan online. Pengguna media sosial harus
mampu melindungi diri mereka sendiri dan informasi pribadi mereka dari penipuan
dan serangan online.
KESIMPULAN
